OSIS: BELAJAR BERORGANISASI USIA DINI
Waktu saya bilang saya dipilih menjadi ketua OSIS, bapak
menegur saya, sudah baca AD/ART belum? Waduh, ga tau apa itu. Saya pun ke rumah
kost pembina OSIS Pak Tito Sutanto dan mendapatkan berbagai dokumen AD/ART, dan
buku2 pembinaan generasi muda lainnya. Ada celetukan pak tito yang berkesan,
definisi pemuda itu ditetapkan secara politis. Warakadah, mana remaja ngerti
kalimat macam begitu waktu itu, apalagi di saat yg berkuasa rejim represif, ga
ada pendidikan politik yg memadai.
Semua tercatat tanpa niat di memori. Manfaatnya melekat
setiap saat. Kultur pendidikan organisasi Sempel berdayaguna saat kita
melanjutkan ke SMA. Pengalaman di OSIS, mempengaruhi rasa percaya diri kawan2
Sempel berkiprah di SMA. Anak "Perum" ga minder tuh berada di tengah
kepungan siswa kota. Waktu pemilihan ketua OSIS SMA2, saya yang berasal dari
sekolah "baru" hanya kalah suara dari aktivis pramuka asal Mauk. Duta
SMP favorit SMPN1 bisa dilampaui. Ketua terpilih meminta saya menjadi wakilnya.
Bukan hanya saya, kawan2 Sempel lainnya juga berkiprah luar biasa di OSIS
SMAN2, ada Budi Hartono yang tercatat berkiprah fenomenal menggoyang tradisi
organisasi.
Ke perguruan tinggi, bekal pendidikan organisasi juga
berguna sekali. Dalam penataran P4 pola 100 jam yang diikuti 1700 mahasiswa baru
ITB, saya masuk 10 besar terbaik, dan wajib melanjutkan kegiatan untuk
penyusunan makalah bersama yang disampaikan ke BP7.
Terakhir, muara itu semua, tahun lalu saya mengambil alih
sebuah yayasan pendidikan dengan aset Rp30M di Bandung hanya dengan bekal
pendidikan organisasi. Yayasan pendidikan yang mengelola TK, SD, SMP, SMA ini
bisa dikuasai tanpa uang, tanpa pencitraan. Asli, apa adanya, hanya karena
memahami Anggaran Dasar yang termaktub dalam Undang Undang tentang Yayasan, dan
bekal obrolan warung kopi soal aplikasi strategi Sun Tzu dalam memetakan
permasalahan organisasi. Sudah tentu karena yayasan ini adalah organisasi
pendidikan, kita perlu juga memiliki kompetensi dan kapasitas dalam bidang
pendidikan. Kapasitas ini saya peroleh karena dulu sering menjadi relawan di
yayasan pendidikan. Kebetulan saja, Semuanya tersusun dalam kehidupan tanpa
niat dan hasrat.
BERORGANISASI ITU FARDU KIFAYAH
Ini sih fatwa dari orang sesat, bukan dari MUI. Nilai-nilai
dari kewajiban berorganisasi ini pastilah kawan2 rasakan dan ketahui. Mau
shalat berjamaah, rapikan dulu shaf-nya. Jika ada orang bertiga berjalan di
muka bumi, maka mereka harus mengangkat pemimpinnya. Begitulah kira2 kutbah
yang pernah saya dengar dari al-ustad Arif Budiman, pada suatu masa.
Jadi, umat alumni Sempel juga perlu memenuhi kewajiban
berorganisasi. Disebut fardu kifayah, artinya kita semua berdosa jika lalai
membangun organisasi kita, dan terhapus beban kewajiban kita semua itu jika di
antara kita sudah ada yang melaksanakannya. Begitu kata guru agama almarhum pak
Hudri.
Manteman, sekarang ini ada kesempatan bagi kita untuk
menyusun barisan. Wakil-wakil tiap angkatan sedang aktif berkumpul membahas
reuni. Reuni pasti terjadi, apa pun kondisi, karena sudah menjadi fitrah untuk
bersilaturahmi. Yang sayang bila dilewatkan adalah kesempatan untuk membangun
organisasi, yang fardu tadi.
Wakil-wakil Angkatan dapat menyisihkan waktu sejenak untuk
mendirikan Forum Wakil Angkatan Alumni Sempel Tahun 1981-1992. Disengaja
berkumpul atau tidak sengaja pun, manfaatkan waktu untuk membuat acara
pendirian dengan dilengkapi Berita Acara untuk legal formalnya. Wakil angkatan
diharapkan hadir semua atau sekurang-kurangnya mencapai kuorum yang umum, 2/3
dari keseluruhan jumlah angkatan.
Forum Wakil Angkatan (FWA) ini menggantikan peran Ikatan
Alumni yang kelak akan dibentuk. FWA akan memayungi dan menjadi wadah alumni
hingga nanti ikatan alumni berdiri saat alumni seluruh angkatan berkumpul, pada
reuni akbar yang lebih besar.
CATATAN AKHIR
FWA ini akan menjadi struktur organisasi yang membawahi
panitia reuni. Panitia Reuni (PR) diberi mandat dan amanat oleh FWA dan oleh
karena itu PR akan mempertanggungjawabkan program dan anggaran kepada FWA.
Satu kaidah yang harus dipenuhi adalah anggota FWA tidak
boleh merangkap pengurus PR, apakah pengurus inti maupun pengurus seksi.
Lebih ideal lagi jika wakil-wakil angkatan ini merupakan
Ketua Angkatan, sehingga organisasi bisa diberi nama Forum Ketua Angkatan
(FKA).
Demikian, semoga wacana ini bisa dipahami dan dijalani,
untuk silaturahmi yang lebih kokoh.
Salam Sempel!






0 komentar:
Posting Komentar