Senin, 28 Maret 2016

Membentuk Forum Wakil Angkatan

OSIS: BELAJAR BERORGANISASI USIA DINI

Waktu saya bilang saya dipilih menjadi ketua OSIS, bapak menegur saya, sudah baca AD/ART belum? Waduh, ga tau apa itu. Saya pun ke rumah kost pembina OSIS Pak Tito Sutanto dan mendapatkan berbagai dokumen AD/ART, dan buku2 pembinaan generasi muda lainnya. Ada celetukan pak tito yang berkesan, definisi pemuda itu ditetapkan secara politis. Warakadah, mana remaja ngerti kalimat macam begitu waktu itu, apalagi di saat yg berkuasa rejim represif, ga ada pendidikan politik yg memadai.
Semua tercatat tanpa niat di memori. Manfaatnya melekat setiap saat. Kultur pendidikan organisasi Sempel berdayaguna saat kita melanjutkan ke SMA. Pengalaman di OSIS, mempengaruhi rasa percaya diri kawan2 Sempel berkiprah di SMA. Anak "Perum" ga minder tuh berada di tengah kepungan siswa kota. Waktu pemilihan ketua OSIS SMA2, saya yang berasal dari sekolah "baru" hanya kalah suara dari aktivis pramuka asal Mauk. Duta SMP favorit SMPN1 bisa dilampaui. Ketua terpilih meminta saya menjadi wakilnya. Bukan hanya saya, kawan2 Sempel lainnya juga berkiprah luar biasa di OSIS SMAN2, ada Budi Hartono yang tercatat berkiprah fenomenal menggoyang tradisi organisasi.
Ke perguruan tinggi, bekal pendidikan organisasi juga berguna sekali. Dalam penataran P4 pola 100 jam yang diikuti 1700 mahasiswa baru ITB, saya masuk 10 besar terbaik, dan wajib melanjutkan kegiatan untuk penyusunan makalah bersama yang disampaikan ke BP7.
Terakhir, muara itu semua, tahun lalu saya mengambil alih sebuah yayasan pendidikan dengan aset Rp30M di Bandung hanya dengan bekal pendidikan organisasi. Yayasan pendidikan yang mengelola TK, SD, SMP, SMA ini bisa dikuasai tanpa uang, tanpa pencitraan. Asli, apa adanya, hanya karena memahami Anggaran Dasar yang termaktub dalam Undang Undang tentang Yayasan, dan bekal obrolan warung kopi soal aplikasi strategi Sun Tzu dalam memetakan permasalahan organisasi. Sudah tentu karena yayasan ini adalah organisasi pendidikan, kita perlu juga memiliki kompetensi dan kapasitas dalam bidang pendidikan. Kapasitas ini saya peroleh karena dulu sering menjadi relawan di yayasan pendidikan. Kebetulan saja, Semuanya tersusun dalam kehidupan tanpa niat dan hasrat.

BERORGANISASI ITU FARDU KIFAYAH

Ini sih fatwa dari orang sesat, bukan dari MUI. Nilai-nilai dari kewajiban berorganisasi ini pastilah kawan2 rasakan dan ketahui. Mau shalat berjamaah, rapikan dulu shaf-nya. Jika ada orang bertiga berjalan di muka bumi, maka mereka harus mengangkat pemimpinnya. Begitulah kira2 kutbah yang pernah saya dengar dari al-ustad Arif Budiman, pada suatu masa.
Jadi, umat alumni Sempel juga perlu memenuhi kewajiban berorganisasi. Disebut fardu kifayah, artinya kita semua berdosa jika lalai membangun organisasi kita, dan terhapus beban kewajiban kita semua itu jika di antara kita sudah ada yang melaksanakannya. Begitu kata guru agama almarhum pak Hudri.
Manteman, sekarang ini ada kesempatan bagi kita untuk menyusun barisan. Wakil-wakil tiap angkatan sedang aktif berkumpul membahas reuni. Reuni pasti terjadi, apa pun kondisi, karena sudah menjadi fitrah untuk bersilaturahmi. Yang sayang bila dilewatkan adalah kesempatan untuk membangun organisasi, yang fardu tadi.
Wakil-wakil Angkatan dapat menyisihkan waktu sejenak untuk mendirikan Forum Wakil Angkatan Alumni Sempel Tahun 1981-1992. Disengaja berkumpul atau tidak sengaja pun, manfaatkan waktu untuk membuat acara pendirian dengan dilengkapi Berita Acara untuk legal formalnya. Wakil angkatan diharapkan hadir semua atau sekurang-kurangnya mencapai kuorum yang umum, 2/3 dari keseluruhan jumlah angkatan.
Forum Wakil Angkatan (FWA) ini menggantikan peran Ikatan Alumni yang kelak akan dibentuk. FWA akan memayungi dan menjadi wadah alumni hingga nanti ikatan alumni berdiri saat alumni seluruh angkatan berkumpul, pada reuni akbar yang lebih besar.

CATATAN AKHIR

FWA ini akan menjadi struktur organisasi yang membawahi panitia reuni. Panitia Reuni (PR) diberi mandat dan amanat oleh FWA dan oleh karena itu PR akan mempertanggungjawabkan program dan anggaran kepada FWA.
Satu kaidah yang harus dipenuhi adalah anggota FWA tidak boleh merangkap pengurus PR, apakah pengurus inti maupun pengurus seksi.
Lebih ideal lagi jika wakil-wakil angkatan ini merupakan Ketua Angkatan, sehingga organisasi bisa diberi nama Forum Ketua Angkatan (FKA).
Demikian, semoga wacana ini bisa dipahami dan dijalani, untuk silaturahmi yang lebih kokoh.
Salam Sempel!

0 komentar:

Posting Komentar