MASA MENURUT KATA KITA
Habis sudah hari tahun ini
tersisa malam riuh sia-sia
tak berarti, tak peduli
maka tak usah telinga pindah ke muka
hanya untuk mendengar sorak sorai hampa
setelah seumur hidup di samping, setia
Hari ke satu tahun baru sekejap lagi.
biar saja mata, sendiri
memandang lepas jauh ke bukit jatidiri
tempat asa menemukan rasa
Lihat kembali compang camping jiwa
tabah menyusuri tebing dan lembah
bangkit bersama limpah ruah madah
dalam wadah wajah
penghadapan padaNya
Bumi mengitari mentari
tanpa pedal dan tuas friksi
nyatanya tiada tanda sang waktu dimulai dan diakhiri
kecuali omong kosong sang ahli
tentang langit dan bumi
maka biarlah hari-hari pergi
tanpa permisi dan basa-basi
kemarin kini nanti
[dibuat di akhir tahun 2010, digubah baru saja]
UANG BERKUASA
Terngiang lagi lagu Negara Polisi
ciptaan sahabat yang telah pergi
satu dekade lalu sering ku arak di udara
memprovokasii khalayak untuk berdaya
di jaman represi masih bergaya
Sekarang bukan jamannya
orang sukarela membela yang benar
lebih banyak nafsu membela yang bayar
bukan kah Nietzsche jelas sarkas menyatakan
tuhan telah mati
kupikir itu bermakna sirnanya sanubari
Bahkan perwira yang mengaku
memenuhi panggilan tuhan pun
tak layak dipercaya
surat panggilan tersangka
hasil rekayasa
menjadi fakta
yang benar disalahkan
yang salah berkuasa
Anak muda sejati mengeluarkan bukti
kepala polisi menerima grafiti
untuk dan atas nama anak istri
malah diancam atasan bakal dianugerahi sanksi berhenti
Aku gemetar bukan membayangkan mati
toh itu memang pasti
tapi khawatir kehilangan nurani
larut bersama gelombang orang takut
LELAKI ADALAH SEPATU USANG
Lelaki adalah sepatu usang
belang karena panas siang dan hujan petang
bernoda kencing kucing
berdebu terlantar di selasar
Lelaki adalah sepatu usang
yang dipakai jarang
dan dibuang sayang
berang jika diambil orang
[Dainsyah:18/12/2011)
SIAPA YANG SALAH
Lima tahun telah lewat
adinda
kita masih berdua saja
kau tetap langsing
tetap legit
tapi itu kurang
kurang afdol
Setiap menjenguk Ibu
adinda
dia nyinyir bertanya
sudah ada gejala?
Rasanya konyol
adinda
berbagai gaya
beragam kecepatan
aneka goyangan
variasi arah naik arah turun
upaya ketahanan
101 ramuan herbal
99 resep sinse dan tabib
7 lembar doa
sudah dicoba
takada jua tanda-tanda
padahal gadis sebelah
cuma satu malam berkilah
sesaat melendung sudah
Siapa yang salah
adinda?
[Dainsyah: 14/12/2011]
CINTA DALAM GADJET
sampai suaranya
melalui seutas tali baja
datang wajahnya
rata pada layar kaca
terpuas kerinduan terbalas kebimbangan
tinggal menunggu tanda kasih
puluhan lembar merah
yg berpindah
via M Bang King
[Dainsyah: 11/12/2011]
GADIS VESPA DALAM CERITA
Ingatan ku terus memburu
kangen begitu
gadis ceria naik skuter biru
Dia lah inspirator
kata-kata mengacau suasana
setia bicara sebagai plagiator
lebih dari seperempat abad
Dulu itu walau pun suka aku tak berani jatuh cinta
pasalnya dia tak seperti wanita
bayangkan, perempuan bawa Vespa
mana ada
Tapi aku tak bisa lupa
dialah sosok anak SMA yang dewasa merdeka
tampil bahagia berwibawa
sayang aku amnesia
siapa dia
[Dainsyah:12/12/2011]
KESETIAAN PADA BRAGA
Gayanya ceria sekali
menyapa menjajakan tusukan daging ayam dan sapi
berulang kali
"sate om?" jika yang melintas laki-laki
"sate neng?" pada yang berlenggok seksi
Ia tak betah mangkal di satu sisi
pukul empat di pintu kereta braga
makin malam beringsut menuju asia afrika
mengikuti arah malaikat membagi rizki
Established since 1975
bersama es puter bapake menghidupi pandawa lima
yang diurus mbah mereka di jawa
Bakul wadah daging
rantang sambal
kipas bilah bambu
dan pisau ketupat
berganti generasi
menemani ia menembus malam
yang cerah atau berhujan
dengan bara arang menyala atau kuyup basah
Tapi ia tak berkeluh kesah
mungkin karena denting kecapi braga stone
Mick Jagger tanpa mata dari sunda
lebih getir dari hidupnya
Aku tak hendak bertanya siapa namanya
apalah arti sebuah nama
lebih penting pelajaran syukur nrimo
si mbok dari Klaten ini
merasuk segala sujud dan ruku
di atas bentang tikar hidup ku
lebih genting menyampaikan kabar gembira ini
pada saudara-saudara yang nyaris putus asa
Api serpihan batok kelapa masih membara
daging-daging tetap meneteskan minyak
pincuk-pincuk selalu ditata
meski pun anak-anak telah jadi orang
dan cucu berangkat remaja
kesetiaan pada Braga
tak lekang oleh masa
(Dainsyah: 8/12/2011]
BULAN TERBELAH
Bulan terbelah di hadapan ku
tiga bagian
menerima kembali
menolak rujuk
atau membiarkan sang waktu ikut membantu
Pangkal pasal bukanlah kesetiaan
hanya tiga perkara
tata kata
cacat raut wajah
dan bahasa tubuh
Sang waktu setia seperempat abad
mengajarkan banyak bab
menoreh perak pada biduk
melaju dan menanjak
isra' dan miraj
Bulan tersandar di tiang mesjid
jenuh melihat pusaran tawaf
mengikuti bumi mengitari mentari
memuai menyusuri langit
kesal karena bumi tak bisa diam meredam lini
membendung tsunami
membekukan lahar semangat
dan letupan mimpi
Bulan terbelah di hadapan ku
tiga bagian
menunggu mukzizat
rekat utuh mendampingi bumi
menyelami semesta abadi
[Dainsyah: 7/12/2011]
POSITIF
Amplop itu ku terima, ku buka
surat hasil tes darah dilepas lipatannya
terbaca nama anakku di pojok atas
pandang mata turun
baris demi baris parameter
eritrosit
hemoglobin
leikosit
trombosit
limfosit
sel-T
CD4
banyak angka-angka
dan sampailah pada
HIV ELISA...
POSITIF
Langit pun terasa runtuh
bumi terasa amblas
lutut lemas
ku gapai bangku ruang tunggu lab klinik itu
ramai
tapi terasa sunyi
sendiri
Masih mungkin ini mimpi
'kan tuhan?
ku genggam ku remas
keras
tangan bangku itu
dingin
terasa sekali
itu besi
aku tidak mimpi
Aku bersandar
kaki ku lurus bagai tak bertulang
apa yang bisa diperbuat?
terbayang rumah terbayang dipan
terbayang wajah si bungsu
masih di susu ibu
tak tahu
meski pun tak berdosa
kini nyata ia ODHA
[Dainsyah: 1 Desember 2011 alias Hari AIDS]
SELAMAT JALAN HAMPA
Akan kemana kau hampa
berkelana
setelah mendera beberapa jeda
Susah diam di sisiku
lasak nian di pangkuan
kau boleh pergi
jika sudah frustrasi
menggerogoti hati
yang keras dan dingin seperti besi
Jika kau lesu
tak bertemu
manusia layu
sambil menunggu
mangsa lalu
mampirlah ke tempatku
tidur lah di sampingku
jangan malu
untuk merayu
[Dainsyah: 30/11/2011]
ASMARA
Saat tak minta
baju tidurmu tipis
hanya memberi nuansa warna
tidak menutupi
tidak menghangati
tapi cukup membakar gejolak asmara
memancing di air keruh
beriak tanda tak dalam
Saat penuh hasrat
kimono kau sandang
menari gemulai dalam sepoi
dentam gamelan
tiba-tiba kau lepas ikatannya
terkuak lebar hingga terpeleset dari bahu
melorotlah hijab itu
dan kau tubrukkan tubuh mungil mu
ke dada bidangku
jam session degup jantung dan deru nafas
mengiringi ronta kecak
hingga ke puncak
Malam demi malam
begini terus
hingga ketika
dunia milik kita berdua
sirna
[Dainsyah: 29/11/2011]
KALKULUS MANUSIAWI
(menyambut Ariel kembali)
Jika tiada dimiliki
maka hati dan bodi bisa dibagi
agar suka ditambahi
dan duka dikurangi
hingga deru nafas hidup dikali
tapi tapi tapi
norma selalu dipangkati
ruh menjadi fungsi faktorial Ilahi
birahi terdiferensi
lebih kecil atau sama dengan bakti ibadi
[Dainsyah: 28/11/2011]
SONETA ARJUNA KALAH
Ku datangi tempat semayammu
jalan lara sisi Braga
belakang gedung Merdeka
saat kau tebar senyum semu
Ku papah segenggam pilu
tanpa asa pembasuh duka
haus pijat jemari pada urat terluka
lapar pagut hangat sapa basi mu
Aspal hitam basah
meredam api unggun tuna wisma
dan silau merkuri pongah
Kepal lidah mu mendesah
memendam barai cinta dusta
dan aku terkulai kalah dalam serapah, puah
[Dainsyah: 27/11/2011]
AKU DAN ENGKAU
Aku ingin bersama mu saling topang
engkau malah memilih terbang
aku berhasrat bersama mu sampai mati
engkau malah mendamprat seolah tuli
aku bernafsu memuja mu tiap waktu
engkau malah memalsu tersipu-sipu
aku mengintip mu dari hari ke hari
engkau berpaling tiada arti
aku memilih jalan kiri
engkau melalui kanan sekali
aku menulis cinta dalam hati
engkau membaca rekening keras sekali
aku memilih produksi dalam negeri
engkau memilih bekas luar negeri
aku rindu
engkau belagu
[Dainsyah: /11/2011]
KARENA AKU GILA
Kosong hidupku
kusumpal rangkaian kata
jika terasa
banyak yang kau baca
pertanda meluasnya sang hampa.
Banyak suara di kepala
dokter bilang schizoprenia
jika terasa
seru yang kau dengar
pertanda perlu kutambah dosis obat jiwa.
Ruang ini sepi
walau pun kalian ada di sisi
dinding batu dan kaca
antara kita.
Kadang kawat tak cukup menyekat
perlu badan dan ranjang direkat
tapi bibir dan hatiku tak bisa diikat
tak henti memberi isyarat.
Tak mesti kalian berduka
atau berusaha mencipta pahala
bersyukur sajalah karena ada Yang Kuasa
yang menciptaku tetap berguna
mempersembahkan hiburan kata
membuat kalian tertawa
karena aku gila
lalu kenapa?
[Dainsyah: 16/11/2011]
>!<
MERDEKA LALU MATI
Merdeka! Merdeka!
Merdeka!
Kita teriak begitu
waktu itu.
Kini
bunyi berganti
Korupsi! Korupsi! Korupsi!
Dulu semua dinding dan langit kita tulis
Merdeka atau Mati!
Kini semua dinding dan langit kita tulis dalam hati
Korupsi atau Mati!
Tanpa kecuali
jangan memungkiri
kalau pun tidak dengan tangan kekuasaan
mungkin dengan bisik kata pengharapan
atau dengki hati pembiaran.
Maka setiap hari ini kembali
roh-roh dan tulang belulang berkata
untuk apa merdeka
jika hanya untuk harkat upacara
untuk apa merdeka
jika nasib negeri hanya begini.
Untuk apa jiwa dan raga kami?
[Dainsyah:10/11/2011]
PUJANGGA DINDING FACEBOOK
"hai...jangan intip-intip aja,nulis dong di
sanggar," sapanya dengan lembut.
Oo my god, ada yg merindukan ku.
Dan langsung terbayang wajah lembut penuh misteri itu.
Wajah yang tidak pernah bosan aku melihatnya, yang karena
jauhnya jarak, aku kerap merindukannya,
yang karena potret saja tak cukup, aku bernafsu untuk
membuat gambar hidupnya,
dengan dalih publikasi cinta seni.
Aaah, dia tidak tahu, bukan aku tak mau berkunjung ke
sanggar,
bahkan sesungguhnya berhasrat kuat.
Tentu tak sekadar hadir.
Aku ingin juga berteriak membuat gaduh menebar butir-butir
rasa dan mewarnai dinding dan langitnya.
Tapi tak bisa, belum bisa hadir dan bersuara.
Ada tugas menanam warna pada helai kapas yang telah ditenun,
lalu helai bergambar itu harus dirangkai menjadi busana,
yang pantas sebagai cinderamata di negeri Andalas.
Tugas itu belum selesai setelah sekian lama terkendala;
lantas kalo aku banyak bersuara, nanti dikira malas.
Sabarlah cantik, tak lama lagi aku akan datang,
mengambil kitab amal kita,
menyampaikannya pada pencinta sastra.
[Dainsyah: 9/11/2011]
PENYAIR ABU-ABU
Abu-abu tapi bukan kelabu,
lain sekali,
dia lah senyuman di tengah kerut serius,
dia lah cerah merah di himpitan kelam,
dia lah embun di kegersangan debu.
kejam sekali juru rekam gambar
menghilangkan satu matanya,
padahal ada ruang terbuang di belakang banyak orang,
keji nian
menutupi kesempurnaan ciptaanNya.
[Dainsyah: 16/11/2011]
Rp TAK PERLU TITIK
Mengapa harus ada titik
jika bisa dilepas bebas?
Rp adalah simbol mata duit,
bukan penyingkat karena pelit.
-------------
Tak ada dolar atau yen,
juga ringgit
kau kawinkan dengan titik.
Bahkan Titik Sandhora kawin sendiri dengan Muchsin.
Lantas, mengapa rupiah disuntik titik?
-------------
Gatal mataku melihat layar kaca
semua pemain bola kita
diberi titik
salah tempatnya.
lihat Bambang Pamungkas
menjadi Bambang titik P
pdhal jelas yang sebenarnya
Bambang P titik.
Mengapa semua jadi lucu
padahal lama Yus Badudu mengguru?
[Dainsyah: 16/11/2011]
>!<
BIMBANG
Cinta telah hilang
tapi kasih justru datang
makanya aku tak bisa lantang
menolak ajakanmu tuk melayang
[Dainsyah: 15/11/2011]
RUANG DAN WAKTU KU
Ruang ini amat sepi
yang ramai hanya bayang
disentuh menghilang.
Waktu ini sudah tak seru
tak ada lagi yang riuh kecuali nafsu
maka dari itu
biarkanlah berlalu.
[Dainsyah: 23 Oktober 2011]
POLITIK DI SINI
Di sini
tak ada politik
yang banyak policik.
Politik seperti batik
mahal, wangi, alami, abadi,
karya tangan yang adil
mata yang peduli
dan hati yang penuh kasih.
Policik seperti kain sintetik
murah, bau, se-olah-olah, lapuk,
karya mesin angkara
mata yang berpaling
dan hati yang picik.
[Dainsyah: 30/09/2011]
R.I.P. GOLOM
Sahabat berkahku...
perjalananmu berakhir kemarin
saat hari baru dimulai
jejakmu membekas
dalam
... lalu sirna
tiba-tiba.
Tak ada sedih
sesedih upacara kematianmu
tak pernah ada mata sembab perpisahan
selain berpisah denganmu.
Banyak tapak kau perbuat
selama perkenalan kita
tawa
silang kata
saling tepuk
sulang peluk
tukar dengkur
sepanjang perjalanan singkat.
Terima kasih atas segala bekal
yang kau tinggal
untuk perjalananku ini.
Aku pun akan naik
dengan kereta berikutnya.
[Dainsyah: 24/09/2011]]
BELAJAR AH
menampung embun dan hujan mengalirkan basah
mencipta kompos dari sampah
melumat batu menjadi tanah
mengayun cangkul menyegarkan bongkah
pasti kering itu pecah
maka tumbuh kecambah
dan hidup menjadi berkah.
[dainsyah: 26/09/2011]
RINDUKU
Rinduku padamu tante,
tak sedangkal pante,
tak sejengkal jahe.
Hasratku padamu tante,
masih melambe,
meskipun sajen kehabisan jampe.
Harapanku pdmu tante,
masih pending selama pulsa masih di hape,
masih banyak jatah gratisnye.
Rasa itu tante belum juga surut,
serasa diurut,
sambil menyantap es serut.
[Dainsyah: saduran 22/08/11 dari Rinduku Elsya Aprianti]
====
RINDUKU
Rinduku kepadamu tuan
tak terbatas dalamnya samudra
tak sebatas panjangnya masa
Hasratku kepadamu tuan
masih menggelora
tak terbendung meledakkan dada
Harapanku kepadamu tuan
masih ada selama angin
masih sepoi temani malam
Rasa itu tuan belum juga padam
masih tersimpan diam-diam
di hening malam
[Elsya Aprianti: 9 Mei 2011]
======
SANG WAKTU
Ooo Mami, maaf tak bisa menemani
anakmu terkulai
tanpa hati
dan imaji.
Mimpi selalu seram, buram
menjalani malam temaram
hingga siang ikut legam
dan isi realita hanya dendam.
Pagi buta sudah lupa
akan rahmat Yang Kuasa
siang terang sudah regang
saraf tegang hingga petang.
Ooo Mami, maaf tak bisa menemani
anakmu terkulai
lebih dini
menyerah kalah di kaki Ilahi.
[Dainsyah: 14/8/11[
---
KASIH BAPAK
Segenap sepi
tumpah ruah
di hati.
Ramai hanyalah deretan suara
yangg datang bertubi dan pergi.
yang tinggal menetap
adalah kesendirian.
Bapak
genggamlah tangan mungilku
ajaklah mataku mengembara seperti kala itu
dan keringkan airnya yg menggenang.
Aku tak pernah ke mana
sejak kau tiada.
[Dainsyah: 4/8/11]
KETIKA HARI DIAKHIRI
Habis sudah hari ini
tinggallah malam dg keriuhan
yg tak berarti
yg tak peduli.
Haruskan telinga ini didepankan
setelah seumur hidup disampingkan?
tidak!
Jauh lebih baik memandang lepas
jauh ke sana ke barisan bukit
tempat asa menemukan rasa
setelah menyusuri lembah dan tebing dengan tabah
lalu bangkit
bersama limpah ruahnya madah
dalam wadah wajah.
Ada yg cantik berbaju batik
jemari lentik gitar dipetik
hujan pun rintik
baju ditarik
mata melirik
dompet tercabik.
Terompet merepet rentet
oh kampret
mengapa engkau pelet
tukang santet?
hingga dempet pejet
si kuntet
dalam air yg lengket.
cret! cret! creeet.
Hari ke satu tahun depan sekejap lagi.
bumi berputar terus menerus, tiada henti,
tak peduli bertahun kali.
Sang waktu juga tak pernah berubah,
kemarin-kini-nanti.
tak tahu kapan waktu dimulai dan diakhiri.
[Dainsyah: 31/12/10]
CINTA FANA
Sedikit demi sedikit
tubuhku menua
hancur.
Hatiku juga.
[Dainsyah: 9/8/11]
KOPI INI NIKMAT SEKALI
This is the very delicious coffee
quarter of robusta
an ounce of arabica
milled with love.
My father had told me about the smell of bean.
I browse it in morning aroma
from Aceh to Nusa Tenggara
Toraja to Cisarua.
Unfortunately
you are not on side of me
when take a cup of coffee
I'm lonely.
[Dainsyah: 14/11/2011]
Pantai Cinta
Rindu lah pada ku bukan siluet biru masa lalu
menarilah
berbayang diterpa mentari kini
bahagia terdampar di pasir putih pantai
berpagut
jemari selaras getar dua hati
kulit halus sebatas betis disapu sesekali
hangat
ombak segelombang cinta
18 Januari 2016
18 Januari 2016
Negeri Tekor
Berjuta orang pintar datang berhingar bingar
rakyat jelata
tetap terkapar
Menteri dan panglima bertukar utang ditambah berjuta dolar
sejahtera tak kuncung bertebar
Mentari berasa semakin terik
hawa pengap menusuk
rusuk
tertawa dipaksa canda tersenyum dirayu kamera
Kepala pening tujuh
keliling
besar pasak daripada tiang
hidup pas-pasan untuk kerja ekstra
boleh berkecukupan
bila punya sabetan
27 Desember 2015
Langkah-langkah Mati
Langkah-langkah Mati
Garuda ku terbang ke luar angkasa meninggalkan dada kita
tempat bersemayam Indonesia
Pekik bangga kepak jaya sorot mata membahana tiba
tiba bisu beku buta
Cengkeraman perkasa yang menjaga bhinneka tunggal ika lepas
lunglai terberai
Kini kita adalah langkah-langkah mati
mayat-mayat hidup tanpa
nurani
memakan darah sendiri dan
sesekali tidur dalam kubangan taik
Bandung
dini hari, 22 Maret 2015
Di Ujung Waktu
Di Ujung Waktu
Firaun
gemetar menghadapi hantu waktu
hitam besar
dan dingin melirik sinis pada jantung dan tenggorok
berancang
menggorok
menguras
darah dan nafas dosa
Aku tak
ingin mati sendiri kata raja
dendamnya
mengundang jamaah nafsu
yang setia
menjilati telur kejantanannya dulu saat muda dan kekar
Nikmat kuasa
merindu di saat renta
jamuan
terakhir digelar menuju pertaruhan besar
menang untuk
hidup sekali lagi
kalah maka
mati bersama budak dan harta karun
sesungguhnya untuk apa? palsu.
15 Mei 2014
15 Mei 2014






0 komentar:
Posting Komentar