CINTA MONYET DI RINDANG CEMARA
Tadinya selembar-selembar, seperti surat. Mungkin karena aku
siswa "pengasuh" perpustakaan sekolah, aku pun berpikir lebih bagus
puisi-puisi romantis kamu dan aku, ditulis pada sebuah buku. Kubeli buku
standar anak sekolah bercelana pendek, kelas dunia murahan, bukan yang elegan
kategori A.
Aku dan kamu menulis pantun, soneta, dan sesekali puisi
bebas silih berganti. Mestinya bagus juga jika suatu hari nanti puisi-puisi itu
diterbitkan dengan judul Antologi Cinta Rindang Cemara. Tidak ada salahnya,
'kan, jika buku itu menjadi mahar pada hari kita jadian serius, setelah ribuan
lembar kita jalin, hari demi hari. Ooo, indahnya mimpi ini.
Setiap hari aku membaca puisi puji-pujian dan puja-pujaan
dari mu, dan setiap hari pula aku menulis puisi membalasnya. Setiap hari hingga
terhenti pada hari itu. Pagi cerah ternyata berlanjut gerah. Tangerang memang
gerah, tapi dua kali lipat lebih gerah pada pagi itu padahal pemanasan global
belum sampai ke situ.
Engkau datang ke tempatku, di bawah rindang pohon cemara, melintas
pagar sekolah. Seperti kemarin, tapi kali ini tanpa senyum.
Engkau mendekat dan menyerahkan buku cinta rindang cemara
itu. "Maaf, saya tidak bisa memenuhi harapanmu, Kak." Hah?! Kok?! Ada
apa neh?
Bumi seperti diterjang badai matahari. Dada ku terhujam.
Sakit. Aku mengira-ngira, tapi tak lama. Tak ada apa-apa, kalau tak ada
apa-apa.
Buku kita kubuka, banyak lembaran-lembaran yang hilang,
dengan tanda robek. Yang tersisa hanya rasa sastra ku, tak ada bagian mu.
Terselip surat dalam amplop putih. Tak ada kata yang berarti, paling juga basa
basi.
Aku pulang ke gubuk kecilku. Tak mengadu pada ayah bunda.
Lady Di ku lari, mana mungkin cerita itu kubagi. Karena hanya ada satu kata
yang diijinkan untuk didengar, prestasi! Jadi soal jatuh hati, wow, nanti.
Buku cinta di rindang cemara itu kucampak, bersama buku-buku
untuk prestasi, yang mestinya kugali karena minggu depan akan diuji.
"Buat apa prestasi kalo bukan buat dapat putri?"
Begitu rintihku pada ibu dalam hati. Cuma berani dalam hati, pasti. Lalu ada
suara ibu dalam hatiku: "Kau akan mengalami, berulang kali, sebelum kau
temukan... cinta sejati."
Cemara itu masih berdiri, hari ini, 27 tahun kemudian, tapi
cintaku tak pernah kembali.






0 komentar:
Posting Komentar